
MALUKU INDOMEDIA.COM, JAKARTA– Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Widya Pratiwi Murad Ismail, menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya persatuan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman Indonesia saat mengunjungi korban bentrokan di kawasan Matraman, Jakarta, yang berasal dari Maluku dan tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Dalam pernyataannya, Widya mengingatkan bahwa Indonesia dibangun dengan pengorbanan seluruh anak bangsa tanpa membedakan suku, ras, agama maupun daerah asal. Karena itu, ia menegaskan tidak boleh ada warga negara yang diperlakukan sebagai “manusia kelas dua” di tanah airnya sendiri.
“Republik ini dibangun atas merah putih, atas tulang dan darah setiap manusia, dari Batavia hingga Papua, dari Jawa hingga Tenggara. Maka jangan perlakukan saudara sebangsa seperti manusia kelas dua,” tegas Widya.
Menurutnya, semangat kebangsaan harus diwujudkan melalui sikap saling merangkul, berbagi kasih, dan menolak segala bentuk diskriminasi.
Widya juga mengingatkan bahwa perbedaan warna kulit, suku, maupun agama tidak boleh dijadikan alasan untuk memecah persaudaraan.
“Republik ini dibangun tanpa mempertanyakan suku, ras dan agama. Maka jangan jadikan warna kulit sebagai pembeda. Jakarta hingga Maluku adalah anak kandung Ibu Pertiwi yang tak boleh ditirikan di negeri sendiri,” ujarnya.
Konflik Tinggalkan Luka, Persatuan Harus Menjadi Jalan Keluar
Dalam pesannya, Widya menilai setiap konflik sosial hanya akan menyisakan penderitaan bagi masyarakat. Sebaliknya, cinta kasih dan persatuan merupakan fondasi utama menjaga keutuhan bangsa.
“Jangan biarkan cinta kasih diganti dengan caci maki, pelukan diganti dengan pukulan. Sebab konflik hanya menyisakan duka, sedangkan cinta selalu menumbuhkan persatuan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia bukan hanya milik masyarakat di kota-kota besar, tetapi juga milik seluruh rakyat yang tinggal di pelosok negeri, termasuk masyarakat Maluku dan Papua.
“Mereka yang mendiami bukit-bukit di Papua, mereka yang menempati garis pantai di Ambonina, mereka juga anak kandung Ibu Pertiwi yang harus dicintai negara tanpa tebang pilih,” ungkapnya.
Pesan untuk Negara
Widya menutup pernyataannya dengan harapan agar negara terus hadir memberikan rasa aman dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa diskriminasi.
“Negara harus mau merangkul yang berbeda, sebab Indonesia adalah tanah air kita,” tutupnya.
Pernyataan tersebut disampaikan usai menjenguk korban bentrokan Matraman asal Maluku yang masih menjalani perawatan medis di RSCM Jakarta. Kehadiran Widya dinilai sebagai bentuk kepedulian sekaligus seruan moral agar setiap persoalan sosial tidak berkembang menjadi konflik yang mengancam persatuan bangsa.
Pesan yang disampaikan Widya Pratiwi menjadi pengingat bahwa penyelesaian konflik tidak cukup melalui penegakan hukum semata, tetapi juga membutuhkan komitmen bersama untuk menghapus stigma, diskriminasi, dan perlakuan yang tidak setara terhadap setiap warga negara. Di tengah keberagaman Indonesia, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus tetap menjadi fondasi menjaga keutuhan NKRI. (MIM-MDO)






