
MALUKU INDOMEDIA.COM, MALUKU TENGGARA— Musim kemarau yang masih berlangsung di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) kembali memicu kebakaran lahan. Kali ini, api menghanguskan sekitar 1 hektare lahan di belakang rumah dokter dan di samping Puskesmas Ohoi Ngilngof, Kecamatan Manyeuw, Selasa (11/8/2026).
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Maluku Tenggara, Drs. A. Rahman Madubun, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, dirinya memimpin langsung proses pemadaman setelah menerima laporan dari petugas Puskesmas Ohoi Ngilngof.
Laporan kebakaran diterima sekitar pukul 14.30 WIT. Setelah melakukan verifikasi, Damkar mengerahkan satu armada dan 20 personel Regu Jaga 2 menuju lokasi.
Tim berangkat sekitar pukul 15.10 WIT dan tiba di lokasi pada pukul 15.30 WIT. Petugas kemudian melakukan size up atau penilaian situasi sebelum menetapkan kondisi kebakaran dan menentukan pola pemadaman.
“Yang terbakar itu sekitar Puskesmas dan rumah dokter. Kami gunakan satu armada dan 20 petugas Damkar, dibantu petugas Puskesmas serta warga setempat dengan pola pemutusan api,” jelas Madubun.
Berkat gerak cepat petugas bersama masyarakat, kobaran api berhasil dikendalikan dan dipadamkan sekitar pukul 16.10 WIT, atau kurang dari satu jam setelah proses pemadaman dimulai.
“Tidak sampai satu jam juga api sudah padam, sekitar jam 4 lewat 10 menit. Cepat saja,” tegas Madubun.
Tak Hanya Api, Damkar Juga Evakuasi Sarang Tawon
Pada hari yang sama, Regu Jaga 2 Damkar Malra kembali bergerak setelah menerima laporan warga terkait sarang tawon yang berada di salah satu kamar kos di Lingkungan Johanis Custers Ohoibun, Ohoi Langgur, Kecamatan Kei Kecil.
Ketua Regu Jaga 2 sekaligus Analis Pemadam Pertama Damkar Malra, Pius Kasihuw, mengatakan pihaknya mengerahkan satu armada dan 11 petugas lapangan untuk menangani laporan tersebut.
Setibanya di lokasi, petugas melakukan observasi dan menemukan sarang tawon berada di bagian ujung plafon kamar kos dengan ketinggian sekitar 29 meter. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan penghuni kos.
Petugas kemudian melakukan pengasapan di sekitar sarang untuk mengusir tawon sebelum sarang dievakuasi. Setelah kondisi dinilai aman, sarang dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
“Kami langsung lakukan pengasapan di sekitar sarang tawon supaya tawon keluar, baru kami bongkar sarangnya dan pindahkan ke tempat yang aman,” ungkap Pius.
Proses evakuasi sarang tawon tersebut selesai sekitar pukul 17.23 WIT
Dua kejadian ini memperlihatkan bahwa tugas Damkar tidak sebatas memadamkan kobaran api. Di tengah musim kemarau yang rawan kebakaran, kecepatan respons, kesiapsiagaan personel, serta kolaborasi dengan masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah api maupun ancaman lainnya berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (MIM-YL)





